Asal Usul Padma Sari dan Bale Bali

Babad Padma Sari dan Bale Bali (Di Lingkungan Paibon Hyang Sari Ungasan)

Padma Sari

Ketika bukit Ungasan akan dikembangkan dengan pembangunan  oleh investor, rupanya pihak Pemda Kabupaten Badung atau Bali sudah mencium akan adanya proyek menguntungkan itu. Mereka (karyawan Pemda) mengumpulkan diri dan mengatasnamakan pemerintah datang menemui Pak Purja, untuk meminta tanah, yang atas nama kakek (tabik pekulun Kak Bongol / I Ngin) dan Bapak (Tabik pekulun Kak Rimun) dari Pak Purja. Karena mengatasnamakan suatu pemerintahan, sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah milik negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sebagai warga negara yang baik, Pak Purja pun memberikan tanah itu kepada Pemda dan Pemda pun memberikan ganti Rugi pada ahli waris dari Kak Bongol.

Namun sebelum berlanjut pada pembagian kepada ahli waris perlu  kiranya saya jabarkan silsilah atau garis keturunan Kak Bongol , demi memperjelas hak dan kewajiban dikelak kemudian hari, yakni sebagai berikut:

Sedikit menengok kebelakang, dari Bapak Kak Bongol, lahirlah tiga orang putra yaitu: Kak Bongol (I Ngin), Kak Punta (Odah dari Kak Batur yang kini mempunyai anak: I Wayan Pudra, Winurjaya, dan I Wayan Bajra), Odah Kak Rambug (Yang kini ahli waris: I Madra dan mempunyai anak I Wayan Sulastra). Namun disini hanya akan di bahas garis keturunan Kak Bongol / I Ngin sebagai garis keturunan langsung yang ngempon Padma Sari.

Kak Bongol (I Ngin) + Istri mempunyai 6 orang anak:

  1. Kak Ramyeg
  2. Kak Ranyan
  3. Kak Rimun
  4. Dong Rungin
  5. Dong Damped
  6. Dong Dudud

Kak Ramyeg + Dong Gasir mempunyai anak:

  1. We Gasir
  2. Nang Kentri (I Pintil)
  3. Nang Nyeri (I Pasna)

We Gasir + Istri I mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Sumerti nikah dengan I Made Wana
  2. Ni Made Sumerni nikah dengan I Wayan Kayun

We Gasir + Istri II (M. Bekul) mempunyai 2 anak laki-laki.

Nang Kentri (Pak Pintil) + Istri I mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Kentri nikah dengan I Kurma

Nang Kentri (Pak Pintil) + Istri I (M. Muntig) mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Merni
  2. I Nyoman Sujana

Nang Nyeri (Pak Pasna) + Istri I (M. Repot) mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Nyeri nikah dengan Kak Pul
  2. Ni Made Wati nikah dengan I Wili
  3. Ni Nyoman Suweti nikah ke kampus
  4. I Ketut Artana

Nang Nyeri (Pak Pasna) + Istri II (M. Mandi) mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Sundayani
  2. Ni Made Sundi

Kak Ranyan + Dong Leli mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Leli nikah dengan Nang Oper anaknya bernama I Wayan Sudarma Yasa

Kak Rimun + Dong Rampe mempunyai anak:

  1. Bapak I Wayan Purja
  2. Men Ni Made Purji nikah dengan P. Suana mempunyai anak I Wayan Suana dan I Made Suandi
  3. Bapak I Nyoman Sukarya

Bapak I Wayan Purja + Ni Made Nyimprig mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Letri nikah dengan I Wayan Marta mempunyai anak I Kadek Ananda Wirayudha
  2. I Made Dama + Ni Nyoman Muliawati mempunyai anak: Oswin dan Belfa
  3. I  Ketut Antara Winawa nikah dengan Ni Kadek Sumadi
  4. I Wayan Arjawa + Ni Kadek Suyanti mempunyai anak I Gede Ricky Jayaharta Arjawa Putra,

Bapak I Nyoman Sukarya + Istri mempunyai anak:

  1. Ni Wayan Surni nikah dengan I Wayan Gria mempunyai dua anak laki-laki
  2. Ni Made Sariasih nikah dengan Pan sara mempunyai anak I Wayan Sara dan I Kadek

Setelah pemda mengambil tanah beliau maka ganti rugipun diberikan kepada ahli waris yang pada saat itu penerimanya adalah We Gasir, Nang Kentri, Nang Nyeri, Pak Purja, dan Nang Sukarya.

Setelah menerima warisan masing-masing dari ahli waris membelanjakan ganti rugi untuk membeli sawah, dan lain-lain.

Ganti rugi yang diterima oleh Pak Purja dibelikan sawah di Tabanan dan Mobil Kol Engkel. Atas permintaan istri Pak Purja yakni Ni Made Nyimprig, diajaklah meluasang dengan tujuan menanyakan kemana harus mebanten karena telah membelikan warisan dari ganti rugi penjualan tanah.

Ketika sampai di Balian atau dukun atau paranormal, balian yang bersangkutan kepeselang oleh Dewi Sri dan Leluhur. Disanalah diberitahu bahwa apapun yang dibeli dan dimanapun sawah yang dibeli sudah diketahui oleh para leluhur. Leluhur minta agar dibangung Padma Sari dan Bale Bali.

Padma Sari berfungsi untuk memberitahukan (nguningayang) apapun yang hendak dilakukan atau dibeli cukup dibilang didepan Padma Sari, kalau ada misalnya hewan ternak sakit cukup minta (nunas) Tirtha di sini dan Tirtha itu bisa dicipratkan ke hewan ternak yang sakit dan pasti sembuh serta banyak fungsi lainnya.

Pertanyaan yang sepontan di tanyakan oleh Pak Purja adalah dimana harus dibangun Padma Sari ini?. Mengingat masing-masing ahli waris sudah mempunyai rumah sendiri dengan lokasi yang berbeda. Sentak tanpa jeda dukun yang kepeselang kompyang atau leluhur menjawab: “….dija je cening mesare ditu bangun Padma Sarine…..” (Dimanapun Pak Purja dan keluarga tinggal / tidur disanalah harus dibangun Padma Sari). Walaupun dibangun di rumah Pak Purja namun semua ahli waris dan keturunan Kak Bongol harus ikut ngempon, dalam artian ketika odalan harus dilaksanakan secara bersama, maturan saat hari raya juga harus dilakukan oleh semua ahli waris, dan semua kegiatan ritual keagamaan harus dilakukan oleh semua ahli waris.

Maka dibangunlah Padma Sari dirumah Pak Purja yaitu di Bangle atau camplik. Namun ketika pembangunan proyek GWK (Garuda Wisnu Kencana) akhirnya rumah Pak Purja harus digusur maka dipindahkanlah atau dituntunlah Padma Sari ini ke angas tepatnya di Jalan Bali Cliff No. 15/30 Ungasan.

Sampai ketika babad atau teks ini dibuat semua ahli waris selalu rajin untuk maturan di Pura Padma Sari ini.

Bale Bali

Dari dukun atau balian yang kepeselang oleh Kompyang atau Leluhur disamping menyampaikan untuk pembuatan Padma Sari juga meminta untuk mendirikan bale Bali. “…hei cening, kantos mangking cening lain paibon ceninge durung madue bale bali cening lan paibon ceninge harus ngae bale bali lan alih bape di dalem, …” (..Sampai saat ini engkau dan warga paibon belum punya bale bali, engkau dan warga ibu harus membuat bale bali kemudian tuntun para leluhur dari pura dalem kahyangan ke Bale Bali…).

Mendengar permintaan itu Ni Made Nyimprig lan Pak Purja menjawab, saya sudah metaki-taki (usaha sedikit demi sedikit) untuk membangun bale bali. Akhirnya Pak Purja bersama Sekaa Umah dibawah warga Paibon Hyang Sari membangun Bale Bali di lingkungan Paibon Hyang Sari Ungasan. Dan menuntun para leluhur dari dalem Kahyangan ke Bale bali.

Bale bali inipun diempon oleh semua warga sekaa umah warga paibon Hyang Sari Ungasan. Setiap hari raya besar semua warga ngaturang (mempersembahkan) punjung atau sesaji lainnya.

Oleh: I Wayan Arjawa, ST.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s