Ngaturang Guru Bendhu

Pada hari Minggu, tanggal 20 November 2010, tepat pada hari raya purnama, Paibon Hyang Sari Ungasan “ngaturang” Guru Bendhu ke pura Tangkas Gelgel. Pura ini didirikan oleh Arya Kanuruhan yang merupakan leluhur Bendesa Tangkas Kori Agung. Dimana pada jaman dulu demi menghormati leluhur beliau di Pulau Jawa, Arya Kanuruhan yang mempunyai tiga orang putra yaitu: Arya Brangsinga, Arya Tangkas, dan Arya Pegatepan membuat 3 pura yang diwariskan pada ketiga anak beliau, yang menempati tempat sesuai nama masing-masing putra beliau.

Arya Tangkas yang merupakan leluhur dari warga Paibon Hyang Sari Ungasan, ngempon Pura yang ada di Tangkas itulah sebabnya warga Paibon Hyang Sari harus “ngaturang” Guru Bendhu.

Pertanyaan yang mungkin muncul kenapa baru sekarang warga harus “ngaturang” guru bendhu?. Bermula dari tabrakan yang dialami putra kedua Pan Surid dan Men Smarni, I Made Suama yang mengalami luka parah karena kakinya patah. Setelah dilakukan pengobatan di Rumah Sakit, dilanjutkan dengan perawatan dirumah. Seperti kebiasaan adat orang Bali, kedua orang tua Dek Itik begitu panggilan akrab putranya ini, “meluasang” atau mencari petunjuk ke Balian atau paranormal. Disanalah dukun itu berkata: “….cening suba se saja seleg maturang ke pura kawitan di Gerih, kewala di pura Tangkas Gelgel tonden cening taen maturang….”. Dari petuah itu di dengar oleh Pak Purja yag dianggap sebagai pengelingsir di Paibon Hyang Sari Ungasan, disanalah kemudian selanjutnya didalam suatu paruman sekaan umah disampaikan dan disetujui untuk ngaturang guru bendhu ke Pura Tangkas Gelgel di Kelungkung.

Maka dengan menyewa dua Bus, serta beberapa kendaraan pribadi, pada tanggal 20 November 2010 jam 09.00 Wita, berangkatkalah warga Paibon Hyang Sari Ungasan ke Kelungkung, dan Pura Dalem Dasar Gelgel, untuk melakukan persembahyangan bersama dan ngaturang Guru Bendhu.

Mulai tanggal inilah secara resmi warga Paibon Hyang Sari Ungasan mempunyai kawitan di Tangkas yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali.

Bagaimana dengan kawitan di Gerih yaitu Bendesa Tangkas Kori Agung Gerih, yang selama ini dianggap sebagai kawitan tunggal?.

Tidak berpengaruh apa-apa, dalam artian pura Bendesa Tangkas Kori Agung Gerih, tetaplah kawitan dari warga Paibon Hyang Sari Ungasan. Kenapa?. Karena sesuai dengan babad Gerih dijelaskan bahwa pura Bendesa Tangkas Kori Agung Gerih, didirikan oleh Pangeran Sukahet yang merupakan putra dari Pangeran Tangkas Kori Agung dengan I Gusti Ayu Manik Mas. Dalam aplikasi pelaksanaan persembahyangan atau maturan lainnya, karena tempatnya saling berjauhan di Abiansmal dan di Kelungkung, mungkin bisa dilakukan dengan selang seling, tahun ini ke Gerih mungkin tahun depan ke Gelgel di Kelungkung, tergantung kesanggupan warga masing-masing.

Sesungguhnya semakin banyak pura yang kita kunjungi atau kita tahu tentu secara sepiritual semakin baik, karena disaat kematian menjemput, roh yang terbebas dari raga bisa masuk kedalam Pura dimana kita pernah maturan. Tetapi sesungguhnya permasalahan yang akan memberatkan penerus kita adalah semakin banyak pura, semakin banyak juga biaya yang dihabiskan untuk melalkukan ritual keagamaan, walau hal ini sesungguhnya sangat tabu untuk dibicarakan namun demi kenyamanan dan jauhnya pertentangan antar generasi berikutnya, tentu kebijakan dari warga sekarang yang merupakan orang tua mereka sangat menentukan. Misalnya: dengan adanya dua kawitan seperti sekarang tentu setiap piodalan akan dikenakan punia bagi warganya, disinilah harus di bijaksanai, misalnya: setiap piodalan di Gerih masing-masing warga di kenai biaya Rp. 80.000, kalau piodalan di Gelgel juga dikenai biaya sebesar itu belum lagi biaya piodalan di paibon, dan lain-lain tentu sangat memberatkan bagi generasi penerus kita, dimana kehidupan ke masa depan jauh lebih sulit dari kehidupan sekarang, karena habisnya lahan di Ungasan di beli oleh investor, tentu warga sekarang bisa melakukan kebijakan dengan membayar misal Rp. 80.000, setelah terkumpul dari semua warga, baru dibagi 2 ke Gerih 50% dan ke Gelgel 50%. (Ini adalah satu cara yang masih di pemikiran saya, mungkin ada cara lain, tetapi yang jelas generasi penerus kita, harus dipikirkan. Saya mohon maaf pada leluhur tiang, mungkin Para Leluhur juga tidak ingin di alam sana melihat preti sentana yang saling baku hantam dalam beryadnya sehingga ketulusan Yadnya itu sendiri menjadi tidak ada).

Diharapkan dikelak kemudian hari agar tidak terjadi kekeliruhan dan salah penafsiran maka generasi muda hendaklah harus tahu tentang kisah ini, dan saya sendiri mohon maaf kepada para leluhur, dewata dewati tiange, serta Sang Hyang Widhi, jika saya telah berani menulis tentang ini. Ini saya lakukan semata-mata agar tidak terjadi kebimbangan dan kegamangan pada pretisentana Bendesa Tangkas Kori Agung  yang didalamnya terdapat warga paibon Hyang Sari Ungasan.

Oleh: I Wayan Arjawa, ST.

This entry was posted in Paibon Hyang Sari and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ngaturang Guru Bendhu

  1. Cai Ketut says:

    Mencermati apa yang dipaparkan oleh semeton Paibon Hyang Sari Ungasan dikemudian hari akan menjadi “bom waktu”.Kebijaksanaan “memilih kawitan” kawitan bukan sekedar mintas petunjuk dari “Balian”saja,mesti sebelum bertindak carilah cendikiawan yang bisa menuntun kita semua.”Balian’ mungkin saja latar belakangnya “salah satu keyakinan” yang ingin warga di bawa kesana. Sebaiknya semeton mencari jalan “pertama pengerasa “,Kedua “sastere” Kenapa ke “dukun” dulu baru permasalahan muncul.Besok akan ada tabrakan lagi…patah… lalu pergi kemana ? Rasa dan sastra patut diteladani. Masalahnya sekarang Semeton berkawitan ganda !? Itu Bom untuk generasi mendatang.
    Maafkan saya urun pendapat.Contoh seperti ini sudah banyak terjadi,suatu saat akan ada cobaan lagi !? Yakinilan dimana kawitan semeton.Cari telung undag keturunan di jeroan.Tanya Nak Lingsir…uli pidan suba kema…….., I Doadong suba napet nak kelewaran caine suba keme ….! nah itu jawaban yang benar semeton.

    • hyangsari says:

      Suksma banget niki Pak Ketut, krana sampun ngicening pendapat sane becik pisan, yening sesuai dengan silsilah yang tiang karyanin (tiang ambil dari berbagai sumber sastra lan babad) pura kawitan gerih didirikan oleh Pangeran Sukahet (Turunan Keempat dari Arya Tangkas) bersama I Gusti Ngurah Mambal sedangkan Pura Tangkas Gelgel didirikan Arya Kanuruhan untuk Arya Tangkas dan preti sentananya. (Dimana seperti diketahui bahwa Arya Kanuruhan mempunyai 3 Putra yaitu Arya Barangsinga, Arya Tangkas dan Arya Pegatepan). Jadi yening ka adunan sekadi silsilah ane jagi kekaryanin patut preti sentana Arya Tangkas ngaturang guru bendu ke Pura Tangkas Gelgel nanging ten dados ninggalin kawitan di Pura Gerih. Mungkin asupunika sering pendapat uli titiang, tiang ngaturang suksma banget Pak Ketut yening wenten sastra sane wenten hubungan teken silsilah Ki Tangkas mohon masukannya. Ampura niki bahasan titiange bahasa moreng niki.

  2. Putu gajah says:

    Wahhh semangat buat semeton tangkas ungasan,jalani dan yakini.saya nanya pak ketut sekarang,memang telung undak leluhur anda tau dari mana kawitan beliau?apa ga sama jg kejadiannya dan prosesnya seperti yg dialami dgn semeton tangkas ungasan cuma dengan waktu yg berbeda,dan keturunannya pun mencari penguatnya melalui babad dan sastra.ya jalani dan yakini saja.,toh leluhur kita semua bersaudara,kawitan yg sama, tuhan yg maha esa;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s