Bagi yang Melestarikan Alam, Sorga Pahalanya

Indraa ya dyaava osadhir uta aapah.

Rayim raksanti jirayo vanani. (Regveda III.51.5).

Maksudnya: Lindungilah sumber-sumber kekayaan alam seperti atmosfir (dyau) tanam-tanaman bahan makan dan tumbuh-tumbuhan berhasiat obat (osadha), sungai sungai, sumber air (aapah) dan hutan-hutan belantara (vana).

Sangeh
PERMUJAAN Tuhan seyogianya didayagunakan untuk menguatkan komitmen umat manusia untuk melaksanakan sabdaNya. Salah satu sabda Tuhan itu seperti Mantra Rgveda III.51.5 yang dikutip di atas. Tuhan telah mensabdakan agar umat manusia menjaga kemurnian eksistensi atmosfir, tanam tanaman terutama bahan makanan dan obat-obatan. Demikian juga sungai-sungai dan sumber-sumber air lainnya dan juga kerimbunan tanaman hutan di kawasan hutan seperti dilereng gunung, hutan bakau di pantai dan kawasan hutan lainnya. Menjaga hutan tidak saja dari segi luasnya, tetapi dari segi jenis dan kwalitas pohon yang membuat rimbunnya hutan. Umat manusia seharusnya paham akan multi fungsi hutan untuk berlangsungnya kehidupan dibumi ini. Kalau sumber daya alam tersebut tak terjaga dengan baik maka hidup manusia di planet bumi ini akan menimbulkan banyak masalah.

Continue reading

Posted in Alam | Tagged | Leave a comment

Pura Luhur Uluwatu

Lokasi

ImagePura ini terletak di sebelah barat Desa Pecatu termasuk wilayah Kecamatan Kuta Selatan, Daerah Tingkat II Badung ± 30 km arah ke selatan dari Kota Denpasar, yaitu di atas tebing yang sangat terjal dengan ketinggian antara 25 – 75 meter dari permukaan laut. Mengenai asal-usul pura ini secara etimologis adalah Luhur = Di Atas, Ulu = Ujung, Watu = Batu. Jadi Pura Luhur Uluwatu artinya pura yang didirikan di atas batu yang menjorok ke laut.

Continue reading

Posted in Pura Sad Kahyangan | Tagged | Leave a comment

Pura Luhur Kancing Gumi

Pura Luhur Kancing Gumi
Letak Pura Pura ini terletak di banjar Batu Lantang, desa Sulangai, kecamatan Petang, Badung.
Data Pengelingsir Pura
  • Kelian Desa: I Made Sarka
  • Kelian Adat: I Gusti Nyoman Rai
  • Jro Mangku Pura Penataran Agung: I Made Catra
  • Jro Mangku Pura Luhur: J M I Made Murdiana lan Ni Putu Sudarmi
  • Jro Mangku Pura Entapsai lan Pura Desa Baleagung: J M Putu Cinta
  • Jro Mangku Puseh: J M I Nyoman Pasek
Piodalan / Pujawali / Petoyan
  • Petoyan Pura Luhur Kancing Gumi: Buda Umanis Prangbakat
  • Piodalan Pura Entapsai, Pura Desa lan Baleagung: Buda Umanis Prangbakat
  • Petoyan ring pura puseh: Anggara Kasih Julungwangi
Pura Kancing Gumi di Desa Batu Lantang
Irika wang padukuhan agaga paswahan mwang Panegalan mwang tan lipya aniwi ngkana, kadi Ajaring Bhatara Ajnyacakra, kalawan Kaki mwang Nini Kusumajati, kadyangganing patemwaning Akasa lawan Prethiwi, patemwaning Purusa lawan Pradana. Ri sampun lami lampahing Sang Hyang Kala Continue reading
Posted in Pura Kancing Gumi | Tagged | Leave a comment

Babad Paibon Hyang Sari Ungasan

Menurut tanggal yang tertera di kori masuk kepura yaitu 14 September 1960, di pastikan bahwa kori itu didirikan pada tanggal yang bersangkutan namun pada saat tersebut pura paibon sudah berdiri secara lengkap. Lalu kapan Pura Paibon didirikan?. Siapa pendirinya?,  masih menjadi tanda tanya yang harus dikaji dan ditelususri jawabannya.

Namun dari peninggalan 2 sekenem yang ada dilingkungan paibon, diperkirakan Pura Paibon ini didirikan 2 saudara kandung minimal itu yang bisa disimpulkan oleh Bapak Wayan Purja dan Ni Made Nyimprig yang dianggap sebagai salah satu pengelingsir di Paibon ini.

Mengenai kapan berdirinya tentu ini berkaitan erat dengan berdirinya Desa Ungasan, yang mana ketika awal Continue reading

Posted in Babad Paibon Hyang Sari | Tagged | Leave a comment

Asal Usul Padma Sari dan Bale Bali

Padma Sari

Ketika bukit Ungasan akan dikembangkan dengan pembangunan  oleh investor, rupanya pihak Pemda Kabupaten Badung atau Bali sudah mencium akan adanya proyek menguntungkan itu. Mereka (karyawan Pemda) mengumpulkan diri dan mengatasnamakan pemerintah datang menemui Pak Purja, untuk meminta tanah, yang atas nama kakek (tabik pekulun Kak Bongol) dan Bapak (Tabik pekulun Kak Rimun) dari Pak Purja. Karena mengatasnamakan suatu pemerintahan, sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah milik negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sebagai warga negara yang baik, Pak Purja pun memberikan tanah itu kepada Pemda dan Pemda pun memberikan ganti Rugi pada ahli waris dari Kak Bongol.

Namun sebelum berlanjut pada pembagian kepada ahli waris Continue reading

Posted in Padma Sari | Tagged | Leave a comment

Ngaturang Guru Bendhu

Pada hari Minggu, tanggal 20 November 2010, tepat pada hari raya purnama, Paibon Hyang Sari Ungasan “ngaturang” Guru Bendhu ke pura Tangkas Gelgel. Pura ini didirikan oleh Arya Kanuruhan yang merupakan leluhur Bendesa Tangkas Kori Agung. Dimana pada jaman dulu demi menghormati leluhur beliau di Pulau Jawa, Arya Kanuruhan yang mempunyai tiga orang putra yaitu: Arya Brangsinga, Arya Tangkas, dan Arya Pegatepan membuat 3 pura yang diwariskan pada ketiga anak beliau, yang menempati tempat sesuai nama masing-masing putra beliau.

Arya Tangkas yang merupakan leluhur dari warga Paibon Hyang Sari Ungasan, ngempon Pura yang ada di Tangkas itulah sebabnya warga Paibon Hyang Sari harus “ngaturang” Guru Bendhu.

Pertanyaan yang mungkin muncul kenapa baru sekarang warga harus “ngaturang” guru bendhu?. Bermula dari tabrakan yang dialami putra kedua Pan Surid dan Men Smarni, I Made Suama yang mengalami luka parah karena kakinya patah. Setelah dilakukan pengobatan di Rumah Sakit, dilanjutkan dengan perawatan dirumah. Seperti kebiasaan adat orang Bali, kedua orang tua Dek Itik begitu panggilan akrab putranya ini, “meluasang” atau mencari petunjuk ke Balian atau paranormal. Disanalah dukun itu berkata: “….cening suba se saja seleg maturang ke pura kawitan di Gerih, kewala di pura Tangkas Gelgel tonden cening taen maturang….”. Dari petuah itu di dengar Continue reading

Posted in Paibon Hyang Sari | Tagged | 3 Comments

PEMADEG KI GUSTI GDE BENDESA GERIH

NAMA, SEBUTAN DAN JABATAN WARGA BENDESA GERIH

Adapun masalah sebutan dan nama warga Bendesa Gerih, kadang-kadang menimbulkan banyak permasalahan maka perlu kiranya diberikan beberapa penjelasan agar Warga Bendesa Gerih dimanapun berada memiliki satu pengertian yang utuh dan seragam. Nama ini muncul pada saat Warga bertanya kepada “Paranormal”. Ada nama yang pas menurut mereka, ada pula yang samar-samar, serta ada yang baru ditelinga mereka. Sedangkan nama yang di “wariskan” oleh para leluhur mereka “beda” dengan sebutan sekarang. Sehingga para sentana menjadi bingung. Banyak yang datang ke Prajuru Warga Pusat. Tak sedikit yang menterjemahkan pindah ke Warga lain. Dan akhirnya “kesakitan”, gering lalu meninggal. Ke “balian” (paranormal) lagi, dan mendapat “pewuwus” Bendesa Tangkas Kori Agung Gerih. Barulah mereka menemukan setelah “kejadian” serupa.

Adapun Sebutan yang sering “muncul” tidak pas benar, Continue reading

Posted in Sejarah | Tagged | 1 Comment